www.ibumengaji.com Dalam kehidupan seorang Muslim, terdapat banyak doa dan dzikir yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk pengakuan akan kelemahan manusia di hadapan Allah SWT. Salah satu dzikir yang sangat agung adalah kalimat “Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘aẓīm.” Kalimat ini bukan sekadar ungkapan biasa, tetapi mengandung makna tauhid, ketundukan, dan pengakuan total bahwa segala kekuatan sejatinya berasal dari Allah.
Tinjauan Bahasa
Secara bahasa, kalimat ini terdiri dari beberapa kata penting. Kata “ḥaul” (حول) berarti perubahan, kemampuan berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain, atau daya untuk menghindari sesuatu. Sedangkan “quwwah” (قوة) berarti kekuatan atau kemampuan untuk melakukan suatu perbuatan. Ketika kedua kata ini digabungkan dalam bentuk penafian “lā ḥaula wa lā quwwata”, maknanya menjadi penegasan bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk berubah dari keadaan buruk menuju keadaan baik dan tidak memiliki kekuatan untuk melakukan kebaikan, kecuali dengan pertolongan Allah.
Sementara itu, kata “al-‘Aliyy” (العلي) adalah salah satu nama Allah yang berarti Yang Mahatinggi, baik dalam kedudukan, kekuasaan, maupun sifat-sifat-Nya. Adapun “al-‘Aẓīm” (العظيم) berarti Yang Mahaagung, yang keagungan-Nya meliputi segala sesuatu.
Dengan demikian, secara makna keseluruhan kalimat ini merupakan pengakuan bahwa segala perubahan keadaan, segala kekuatan untuk berbuat, dan segala kemampuan manusia sepenuhnya bergantung kepada Allah SWT.
Dalil Hadits tentang Keutamaan
Keutamaan dzikir ini dijelaskan dalam beberapa hadits Nabi SAW. Salah satu hadits yang sangat terkenal diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
“أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ؟”
فَقُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ.
قَالَ: “لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.”
Artinya:
Dari Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah SAW bersabda:
“Mahukah aku tunjukkan kepadamu salah satu perbendaharaan dari perbendaharaan surga?”
Aku menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda: “Ucapkanlah: Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa agungnya kalimat tersebut hingga disebut sebagai “harta karun dari surga.”
Kapan Dzikir Ini Dibaca
Dalam tuntunan Islam, kalimat ini sering dianjurkan dibaca dalam beberapa keadaan. Pertama, ketika seseorang menghadapi kesulitan atau ujian hidup. Kalimat ini mengingatkan bahwa kekuatan manusia terbatas dan pertolongan Allah adalah sumber utama solusi. Kedua, kalimat ini dianjurkan dibaca ketika mendengar hayya ‘alaṣ-ṣalāh dan hayya ‘alal-falāḥ dalam adzan. Hal ini berdasarkan hadits Nabi yang memerintahkan umat Islam menjawab panggilan tersebut dengan membaca “lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.”
Selain itu, para ulama juga menganjurkan membacanya ketika seseorang merasa lemah, putus asa, atau menghadapi pekerjaan berat, karena dzikir ini memperkuat rasa tawakal kepada Allah.
Penjelasan Ulama tentang Makna Doa
Para ulama memberikan penjelasan mendalam mengenai kalimat ini. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa maknanya adalah pengakuan bahwa tidak ada kemampuan untuk meninggalkan maksiat dan tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah. Dengan kata lain, manusia tidak mampu menjadi baik tanpa bimbingan dan kekuatan dari-Nya.
Sementara itu, Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kalimat ini merupakan bentuk isti’anah (memohon pertolongan kepada Allah). Kalimat ini menggabungkan antara pengakuan kelemahan diri dan ketergantungan total kepada Allah sebagai sumber kekuatan.
Penutup
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa dzikir “Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘aẓīm” merupakan kalimat yang sangat agung dalam Islam. Ia mengajarkan manusia untuk selalu menyadari keterbatasan dirinya dan menggantungkan seluruh kekuatan kepada Allah SWT. Dengan membiasakan membaca dzikir ini, seorang Muslim akan memiliki hati yang lebih tawakal, lebih tenang menghadapi ujian hidup, serta semakin dekat dengan Allah yang Mahatinggi dan Mahaagung.