“Kerja boleh keras tapi sholat harus jadi prioritas” adalah ungkapan singkat yang sarat makna. Ia tidak menafikan pentingnya kerja, namun menegaskan bahwa di atas seluruh kesibukan dunia, ada kewajiban yang tidak boleh ditunda apalagi ditinggalkan. Kalimat ini mengajarkan keseimbangan: antara ikhtiar dan ibadah, antara usaha lahiriah dan kekuatan batiniah.
Mengapa seseorang harus bekerja keras? Dalam kehidupan, kerja adalah bentuk tanggung jawab. Setiap orang memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi: sandang, pangan, papan, pendidikan anak, kesehatan, dan berbagai tuntutan hidup lainnya. Bekerja keras juga menjadi sarana menjaga kehormatan diri agar tidak bergantung pada orang lain. Dalam Islam, bekerja bahkan dipandang sebagai bagian dari ibadah apabila diniatkan dengan benar. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sebaik-baik makanan adalah dari hasil usaha tangannya sendiri. Artinya, kerja keras adalah wujud kesungguhan dalam menjalani amanah sebagai hamba dan khalifah di muka bumi.
Selain faktor kebutuhan, banyak orang bekerja keras karena dorongan cita-cita. Mereka ingin meningkatkan taraf hidup, memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga, serta membuktikan kemampuan diri. Di era modern dengan persaingan yang ketat, kerja keras sering kali dianggap sebagai kunci keberhasilan. Tidak sedikit pula yang bekerja keras karena tekanan sosial—takut tertinggal, takut gagal, atau ingin mendapatkan pengakuan. Semua alasan itu manusiawi. Namun, di tengah derasnya aktivitas, sering kali waktu ibadah justru menjadi korban.
Di sinilah urgensi sholat untuk diprioritaskan. Sholat bukan sekadar ritual, tetapi fondasi kehidupan seorang muslim. Ia adalah tiang agama. Tanpa sholat, bangunan keimanan menjadi rapuh. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 43: “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” Perintah ini menunjukkan bahwa sholat adalah kewajiban yang tegas dan tidak bisa ditawar.
Perintah sholat lima waktu juga ditegaskan dalam surah An-Nisa ayat 103: “Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” Ayat ini menekankan bahwa sholat memiliki waktu yang sudah ditetapkan. Artinya, kesibukan apa pun tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikannya. Justru di sela-sela kesibukan itulah sholat menjadi jeda yang menenangkan dan menguatkan.
Keutamaan sholat sangatlah besar. Dalam surah Al-Ankabut ayat 45 disebutkan bahwa sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sholat yang dikerjakan dengan khusyuk akan membentuk karakter disiplin, jujur, dan bertanggung jawab. Selain itu, sholat menjadi penghapus dosa. Rasulullah ﷺ mengibaratkan sholat lima waktu seperti sungai yang mengalir di depan rumah seseorang, yang digunakan untuk mandi lima kali sehari—tidak akan tersisa kotoran sedikit pun.
Lebih dari itu, sholat adalah sumber ketenangan. Ketika tekanan pekerjaan terasa berat, sholat menjadi tempat kembali. Dalam sujud, seorang hamba mengakui kelemahan dan menyerahkan segala urusan kepada Allah. Dari situlah lahir ketenangan batin dan kekuatan baru untuk melanjutkan perjuangan.
Pada akhirnya, kerja keras dan sholat bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya justru saling melengkapi. Kerja keras tanpa sholat bisa membuat manusia lelah dan hampa. Sebaliknya, sholat yang dijaga akan menghadirkan keberkahan dalam kerja. Maka, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, namun jangan pernah menunda panggilan adzan. Karena rezeki sudah Allah jamin, sementara sholat adalah kewajiban yang akan pertama kali dihisab di hari kemudian.