www.ibumengaji.com Ayat ke 23 dari surat Al-Hadid merupakan kelanjutan dari pembahasan tentang ketetapan Allah (takdir) dalam kehidupan manusia. Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah memberitahukan segala sesuatu telah ditetapkan sejak sebelum penciptaan langit dan bumi, agar manusia memiliki sikap seimbang dalam menghadapi peristiwa hidup.
Tujuan dari pemahaman takdir ini adalah agar seseorang tidak larut dalam kesedihan ketika kehilangan sesuatu, dan tidak berlebihan dalam kegembiraan ketika mendapatkan nikmat. Kesedihan yang berlarut-larut bisa melemahkan jiwa, sementara kegembiraan yang berlebihan dapat melahirkan kesombongan dan lupa kepada Allah.
Imam Al-Qurthubi menegaskan bahwa Islam tidak melarang manusia merasa senang atau sedih, karena itu adalah fitrah. Namun yang dilarang adalah sikap berlebihan yang menghilangkan rasa syukur, sabar, dan tawakal. Ayat ini mengajarkan keseimbangan emosi yang sehat dan berlandaskan iman.
Bagian akhir ayat menegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri atas apa yang ia miliki. Sebab harta, jabatan, dan keberhasilan sejatinya adalah pemberian Allah, bukan murni hasil kekuatan manusia.
Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)
Para ulama tafsir seperti Ath-Thabari dan Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ayat ini tidak memiliki sebab turunnya yang khusus atau peristiwa tertentu. Ia turun sebagai prinsip umum untuk membentuk sikap mental kaum mukminin terhadap dunia, terutama setelah Allah menjelaskan tentang ketetapan takdir dalam ayat sebelumnya.
Artinya, pesan ayat ini bersifat universal dan relevan sepanjang zaman.
Faedah dan Pelajaran yang Dapat Diamalkan
Dari QS. Al-Hadid ayat 23, terdapat beberapa hikmah penting:
-
Melatih kesabaran saat kehilangan
Seorang muslim menyadari bahwa apa yang luput darinya telah ditakdirkan Allah, sehingga hatinya lebih tenang dan tidak putus asa. -
Menumbuhkan rasa syukur tanpa kesombongan
Nikmat yang diperoleh disikapi dengan syukur, bukan dengan pamer atau merasa lebih tinggi dari orang lain. -
Menjaga keseimbangan emosi dalam hidup
Islam mengajarkan ketenangan batin, tidak ekstrem dalam sedih maupun senang. -
Menguatkan iman kepada takdir Allah
Keyakinan bahwa segala sesuatu berada dalam ketentuan-Nya membuat hidup lebih lapang dan penuh kepercayaan kepada Allah. -
Membentuk akhlak rendah hati (tawadhu’)
Kesadaran bahwa semua karunia berasal dari Allah mencegah munculnya sifat sombong.
Penutup
QS. Al-Hadid ayat 23 merupakan pedoman penting dalam membangun ketenangan jiwa seorang muslim. Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan dunia penuh dengan pergantian antara kehilangan dan pemberian, yang semuanya berada dalam ketetapan Allah. Dengan memahami hal ini, seseorang akan menjadi pribadi yang sabar dalam ujian, bersyukur dalam nikmat, serta terhindar dari kesombongan. Inilah kunci ketenangan hati dan kematangan spiritual dalam menjalani kehidupan sehari-hari.