www.ibumengaji.com Allah SWT adalah sumber segala rezeki dan karunia bagi seluruh makhluk-Nya. Tidak ada satu pun manusia yang hidup tanpa menerima nikmat dari Allah, baik yang disadari maupun yang sering terlupakan. Al-Qur’an menegaskan keluasan nikmat tersebut dalam firman-Nya:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
Artinya: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
Ayat ini terdapat dalam Surat Ibrahim ayat 34 serta disebutkan kembali dalam Surat An-Nahl ayat 18 dengan makna yang serupa.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai peringatan umum kepada manusia tentang betapa banyaknya karunia Allah yang meliputi kehidupan mereka. Tidak terdapat asbabun nuzul khusus yang berkaitan dengan satu peristiwa tertentu, karena kandungan ayat ini bersifat universal. Allah ingin menanamkan kesadaran bahwa nikmat-Nya tidak terhitung jumlahnya dan terus mengalir tanpa henti.
Dalam kehidupan sehari-hari, rezeki sering dipahami sebatas harta benda. Padahal Islam memandang rezeki dalam makna yang jauh lebih luas. Tubuh yang sehat adalah rezeki besar yang memungkinkan seseorang bekerja dan beribadah dengan baik. Ditutupinya aib-aib kita adalah nikmat yang menjaga kehormatan dan ketenangan hati. Kehadiran keluarga yang penuh kasih sayang merupakan rezeki yang menumbuhkan kekuatan mental dan kebahagiaan hidup. Bahkan kemudahan dalam melaksanakan shalat, membaca Al-Qur’an, serta keinginan untuk berbuat kebaikan juga termasuk rezeki yang sangat berharga.
Setelah menyadari luasnya nikmat Allah, seorang muslim dituntut untuk mensyukurinya dengan benar. Syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan, tetapi harus diiringi dengan kesadaran hati dan perbuatan nyata. Dengan hati, kita meyakini bahwa semua yang kita miliki berasal dari Allah. Dengan lisan, kita memperbanyak pujian dan doa sebagai bentuk pengakuan atas karunia-Nya. Dengan perbuatan, kita menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan, seperti membantu orang lain, memperkuat ibadah, dan menjauhi hal-hal yang dilarang Allah.
Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang sangat indah dalam bersyukur. Meskipun beliau adalah manusia yang paling mulia dan telah dijamin ampunan, beliau tetap memperbanyak ibadah, khususnya shalat malam hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya alasan beliau bersungguh-sungguh beribadah, Nabi menjawab, “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur?” Sikap ini menunjukkan bahwa syukur sejati diwujudkan melalui ketaatan dan kesungguhan dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Selain itu, Nabi juga selalu memuji Allah dalam setiap keadaan. Ketika mendapatkan nikmat, beliau bersyukur. Ketika menghadapi kesulitan, beliau tetap memuji Allah karena yakin bahwa di balik semua keadaan terdapat hikmah dan kasih sayang-Nya.
Sebagai penutup, nikmat dan rezeki Allah SWT sangat luas dan tidak terbatas pada urusan materi semata. Kesehatan, keluarga, perlindungan dari keburukan, serta kemudahan dalam beribadah merupakan bentuk rezeki yang sering terlupakan. Dengan membiasakan diri bersyukur melalui hati, lisan, dan perbuatan, seorang muslim akan hidup lebih tenang dan semakin dekat kepada Allah SWT. Semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang mampu menghargai setiap nikmat dan menggunakannya di jalan kebaikan.