Yayasan Ibu Mengaji Indonesia

Bukan Sekadar Tamu Ramadhan: Dari Doa Menuju Perubahan Diri

Ramadhan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Udara terasa lebih tenang, masjid mulai ramai, dan lisan lebih sering menyebut nama Allah. Namun di balik kemeriahan spiritual itu, muncul sebuah pertanyaan mendasar: siapkah kita benar-benar menyambut Ramadhan? Bukan sekadar menunggu datangnya bulan suci, tetapi menyiapkan hati agar Ramadhan menjadi jalan perubahan, bukan hanya rutinitas tahunan.

Banyak orang menjalani Ramadhan layaknya tamu. Datang, menikmati hidangan rohani, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak perubahan. Sholat tarawih dikerjakan, tilawah meningkat, sedekah dilipatgandakan, tetapi semua itu perlahan memudar setelah Ramadhan berlalu. Padahal hakikat Ramadhan bukan hanya pada kuantitas ibadah, melainkan pada kualitas transformasi diri yang ditinggalkannya.

Doa, “Yaa Allah, jangan jadikan hamba hanya tamu bagi Ramadhan, tapi jadikanlah hamba pribadi yang Engkau ubah menjadi lebih baik karena kehadirannya,” adalah pengakuan akan keterbatasan manusia sekaligus harapan besar kepada Allah. Doa ini menunjukkan kesadaran bahwa perubahan sejati tidak lahir semata dari usaha lahiriah, tetapi dari pertolongan dan hidayah-Nya. Ramadhan adalah momentum, namun Allah-lah yang menanamkan cahaya perubahan di dalam hati.

Kesiapan menyambut Ramadhan sejatinya dimulai sebelum bulan itu tiba. Bukan hanya menyiapkan jadwal sahur dan buka, tetapi menata niat dan membersihkan hati. Muhasabah menjadi langkah awal: menilai sholat yang masih lalai, lisan yang mudah menyakiti, serta hati yang masih dipenuhi iri dan dendam. Kesadaran akan kekurangan inilah yang membuat Ramadhan hadir sebagai kebutuhan, bukan sekadar perayaan.

Ramadhan juga merupakan madrasah jiwa. Puasa melatih kejujuran dan pengendalian diri, sholat malam menumbuhkan kedekatan dengan Allah, dan sedekah mengikis cinta berlebihan pada dunia. Jika pelajaran-pelajaran ini benar-benar diresapi, maka hasilnya akan terlihat setelah Ramadhan berlalu: sholat yang lebih terjaga, akhlak yang lebih lembut, dan hati yang lebih tenang. Inilah tanda bahwa seseorang tidak hanya singgah di Ramadhan, tetapi dibentuk olehnya.

Pada akhirnya, keberhasilan Ramadhan tidak diukur dari seberapa padat aktivitas ibadah selama sebulan, melainkan seberapa jauh perubahan itu bertahan dalam kehidupan sehari-hari. Ramadhan yang sukses adalah Ramadhan yang melahirkan pribadi lebih bertakwa, lebih sabar, dan lebih peduli terhadap sesama.

Semoga Ramadhan yang akan datang tidak menjadikan kita sekadar tamu yang berlalu, tetapi hamba yang pulang membawa perubahan. Dengan niat yang tulus dan doa yang terus dipanjatkan, kita berharap Ramadhan benar-benar menjadi titik balik menuju diri yang lebih baik, lebih dekat kepada Allah, dan lebih bermanfaat bagi sesama. Aamiin

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments