www.ibumengaji.com Marah adalah reaksi emosional alami yang muncul ketika seseorang merasa tersinggung, terancam, diperlakukan tidak adil, atau harapannya tidak terpenuhi. Dalam batas tertentu, marah adalah fitrah manusia. Ia menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, marah berubah menjadi masalah ketika menguasai akal dan nurani, sehingga seseorang kehilangan kejernihan berpikir dan kemampuan menimbang dengan bijak.
Perkataan hikmah “Tidak mungkin bagimu untuk melihat bayanganmu pada air yang mendidih, begitu juga kamu tidak akan bisa melihat kebenaran saat kamu sedang marah” sering dinisbatkan kepada Jalaluddin Rumi, seorang sufi dan penyair besar abad ke-13. Namun demikian, para peneliti literatur menyebutkan bahwa tidak ada rujukan teks yang benar-benar pasti dalam karya asli Rumi. Meski begitu, makna dan ruh nasihat ini sangat selaras dengan ajaran tasawuf, etika Islam, serta kebijaksanaan universal tentang pengendalian diri.
Pemicu Marah dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam pergaulan sehari-hari, pemicu marah sangat beragam. Di antaranya adalah ucapan yang menyinggung perasaan, sikap orang lain yang dianggap meremehkan, perbedaan pendapat, tekanan pekerjaan, masalah ekonomi, hingga kelelahan fisik dan mental. Tidak jarang pula marah muncul karena ego yang tersentuh, keinginan untuk dihargai, atau ekspektasi yang tidak sesuai dengan kenyataan. Semua ini ibarat api kecil yang, jika disiram bensin emosi, akan membesar dan sulit dikendalikan.
Ketika Marah Menguasai Hati dan Pikiran
Apabila hati dan pikiran telah dirasuki rasa marah, langkah pertama yang harus dilakukan adalah berhenti sejenak. Diam bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kecerdasan emosional. Menenangkan diri bisa dilakukan dengan menarik napas dalam-dalam, menjauh sementara dari sumber konflik, berwudhu, berzikir, atau mengalihkan perhatian pada hal-hal yang menenangkan. Tujuannya satu: menurunkan “suhu batin” agar air hati tidak lagi mendidih.
Mengapa Tidak Boleh Mengambil Keputusan Saat Marah
Nasihat hikmah di atas menjelaskan dengan sangat indah bahwa marah mengaburkan kebenaran, sebagaimana air mendidih menghilangkan bayangan. Dalam kondisi marah, seseorang cenderung bertindak impulsif, melihat masalah secara sempit, dan mengabaikan dampak jangka panjang. Keputusan yang diambil sering kali didorong oleh emosi sesaat, bukan oleh akal sehat dan pertimbangan matang.
Kerugian Mengambil Keputusan Saat Marah
Kerugian dari keputusan yang diambil dalam keadaan marah sangat nyata. Hubungan bisa rusak karena kata-kata yang melukai, kepercayaan bisa hancur karena tindakan tergesa-gesa, dan penyesalan sering datang setelah emosi mereda. Tidak sedikit konflik besar—baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat—berawal dari keputusan yang lahir dari kemarahan.
Penutup
Karena itu, menunda keputusan saat marah bukanlah bentuk ketidakmampuan, melainkan tanda kedewasaan. Ketika hati sudah tenang, kebenaran akan lebih mudah terlihat, dan keputusan pun lebih mendekati keadilan serta kebijaksanaan. Seperti air yang telah berhenti mendidih, barulah bayangan diri dan kebenaran dapat tampak dengan jelas.