www.ibumengaji.com Al-Qur’an menyajikan banyak kisah yang penuh hikmah, salah satunya kisah penciptaan manusia pertama, Nabi Adam AS, yang termaktub dalam Surah Shad ayat 71–88. Dalam rangkaian ayat tersebut, Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah, kemudian Allah meniupkan ruh ciptaan-Nya ke dalam jasad Adam. Setelah itu, Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud sebagai bentuk penghormatan kepada makhluk baru ini. Semua malaikat pun patuh, kecuali Iblis yang dengan angkuh menolak perintah Allah.
Iblis beralasan bahwa dirinya lebih baik daripada Adam karena ia diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Karena kesombongan inilah, Iblis menolak perintah Allah, hingga akhirnya ia terusir, mendapat kutukan, dan dijanjikan balasan neraka. Namun sebelum itu, Iblis meminta tangguh waktu untuk bisa menyesatkan anak keturunan Adam, kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas. Dari kisah ini, para ulama tafsir menjelaskan banyak pelajaran berharga yang bisa dijadikan pegangan hidup.
1. Kehormatan manusia sebagai ciptaan Allah
Kisah ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan manusia. Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya, menyempurnakannya, lalu meniupkan ruh ke dalam dirinya. Lebih dari itu, para malaikat pun diperintahkan untuk bersujud kepadanya. Menurut para mufassir, hal ini menegaskan bahwa manusia diberi potensi yang sangat istimewa, bukan sekadar tubuh, melainkan akal, ruh, dan fitrah yang bisa mengantarkan pada ketaatan. Dengan demikian, setiap manusia seharusnya menyadari kehormatan ini dengan cara memelihara fitrah, menjaga kehormatan diri, dan tidak terjerumus dalam perbuatan yang merendahkan martabatnya.
2. Bahaya kesombongan dan merasa lebih unggul
Iblis menolak perintah Allah bukan karena tidak tahu, tetapi karena sombong. Ia membandingkan dirinya dengan Adam berdasarkan asal penciptaan—api dianggap lebih mulia daripada tanah. Menurut tafsir Ibn Katsir, kesombongan inilah yang menjadi pangkal penolakan dan pengingkaran. Dari sini dapat dipetik pelajaran bahwa merasa diri lebih baik daripada orang lain, baik karena harta, keturunan, atau ilmu, adalah sifat yang membinasakan. Sombong bukan saja merusak hubungan dengan sesama, tetapi juga menutup pintu hidayah dari Allah SWT.
3. Pentingnya ketaatan mutlak kepada Allah
Malaikat memberi teladan ketaatan total. Mereka langsung bersujud ketika diperintahkan, tanpa membantah atau beralasan. Sebaliknya, Iblis memilih membantah dengan logika yang lemah. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran benar atau salah dalam ketaatan bukan pada logika manusia semata, melainkan pada ketundukan kepada perintah Allah. Para ulama menekankan bahwa ibadah yang hakiki adalah tunduk dan patuh, meskipun terkadang manusia belum mampu memahami hikmah di balik perintah tersebut.
4. Iblis tidak putus asa menyesatkan manusia
Setelah diusir dan dikutuk, Iblis tidak berhenti. Ia justru bersumpah akan menyesatkan anak cucu Adam dari segala arah—dari depan, belakang, kanan, maupun kiri. Ini menjadi peringatan bahwa musuh utama manusia bukan sekadar hawa nafsu, melainkan Iblis yang selalu berusaha menjerumuskan manusia ke dalam kesalahan. Imam al-Qurthubi menafsirkan bahwa strategi Iblis sangat halus, mulai dari membisikkan keraguan, menumbuhkan rasa malas, hingga menanamkan cinta berlebih pada dunia. Oleh karena itu, kewaspadaan dan penjagaan diri melalui iman dan zikir menjadi benteng yang paling kuat.
5. Hanya orang yang ikhlas yang selamat
Dalam pengakuannya, Iblis mengakui satu hal penting: ia tidak mampu menyesatkan hamba-hamba Allah yang ikhlas. Keikhlasan menjadi benteng yang tak bisa ditembus oleh tipu daya setan. Para ulama menjelaskan bahwa ikhlas berarti memurnikan niat, menjadikan semua amal hanya karena Allah, bukan karena riya, pamrih, atau mencari dunia. Dengan ikhlas, seorang hamba tidak mudah goyah meskipun digoda atau dipengaruhi oleh bisikan setan.
6. Janji Allah pasti benar
Kisah ini ditutup dengan penegasan Allah bahwa neraka Jahannam adalah balasan bagi Iblis dan para pengikutnya. Sebaliknya, orang-orang yang bertakwa dijanjikan surga yang penuh kenikmatan. Ayat ini mengajarkan bahwa janji Allah pasti benar, baik berupa ancaman maupun kabar gembira. Maka, manusia dituntut untuk memilih jalan yang benar agar tidak tergolong orang yang merugi.
Penutup
Kisah penciptaan Adam dan penolakan Iblis dalam Surah Shad ayat 71–88 bukan sekadar kisah sejarah, tetapi pelajaran hidup yang relevan sepanjang zaman. Dari kisah ini kita belajar tentang kehormatan manusia, bahaya kesombongan, pentingnya ketaatan, kewaspadaan terhadap tipu daya setan, serta betapa besar kekuatan ikhlas dalam menjaga keimanan. Pada akhirnya, manusia dihadapkan pada pilihan: mengikuti jalan Iblis yang penuh kesombongan, atau meneladani Adam dengan ketundukan dan keikhlasan.