Yayasan Ibu Mengaji Indonesia

Hikmah Doa dari Ummul Mukminin Juwairiyah: Ringkas dengan Pahala Tak Terbatas

www.ibumengaji.com Doa yang agung ini bersumber dari sebuah riwayat hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin, Juwairiyah binti Al-Harits radhiyallahu ‘anha, salah seorang istri Nabi Muhammad ﷺ. Dalam hadits sahih yang diriwayatkan Imam Muslim, diceritakan bahwa suatu pagi Rasulullah ﷺ keluar dari rumahnya menuju masjid untuk menunaikan shalat Subuh. Ketika beliau kembali, ternyata Juwairiyah masih duduk di tempat shalatnya sambil berzikir.

Melihat hal itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Engkau masih berada di tempatmu sejak aku meninggalkanmu tadi?”
Juwairiyah menjawab: “Iya.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh, aku telah mengucapkan empat kalimat tiga kali, yang seandainya ditimbang dengan semua yang engkau ucapkan sejak tadi pagi, niscaya lebih berat timbangannya. Yaitu: Subhanallahi wabihamdihi ‘adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata ‘arsyihi, wa midada kalimatihi.”

Kisah ini menunjukkan betapa Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada umatnya untuk mengutamakan kualitas dzikir dibanding sekadar kuantitas. Dalam beberapa lafaz saja terkandung makna luas yang meliputi seluruh makhluk, keridhaan Allah, keagungan Arsy, serta ketidakberbatasan kalimat Allah.

Makna Doa

Kalimat doa ini begitu padat makna:

  • سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ (Mahasuci Allah dengan memuji-Nya) menunjukkan pengakuan atas kesucian Allah dari segala kekurangan dan menyertakan pujian sempurna.

  • عَدَدَ خَلْقِهِ (sebanyak jumlah makhluk-Nya) menggambarkan keluasan dzikir yang tidak terbatas pada lisan manusia, melainkan sebesar bilangan seluruh ciptaan Allah.

  • وَرِضَا نَفْسِهِ (sesuai keridhaan diri-Nya) menunjukkan dzikir yang dilakukan tidak hanya sesuai kadar manusia, tetapi mengikuti standar keridhaan Allah yang tak terhingga.

  • وَزِنَةَ عَرْشِهِ (seberat timbangan ‘Arsy-Nya) menegaskan kebesaran Arsy sebagai ciptaan paling agung, sehingga dzikir ini menyamai bobot kemuliaannya.

  • وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ (sebanyak tinta penulisan kalimat-Nya) menggambarkan bahwa dzikir ini meluas tanpa batas, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an bahwa kalimat Allah tidak akan habis meski ditulis dengan tinta seluas lautan.

Perawi Hadits

Doa ini diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Juwairiyah binti Al-Harits radhiyallahu ‘anha. Beliau adalah putri pemimpin kabilah Bani Musthaliq. Pada awalnya, Juwairiyah tertawan dalam peperangan, namun kemudian Rasulullah ﷺ menikahinya. Pernikahan ini membawa berkah besar, karena kaum Muslimin pun membebaskan banyak tawanan sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga istri Nabi.

Juwairiyah dikenal sebagai wanita yang tekun beribadah, banyak berzikir, dan penuh ketaatan. Dari beliaulah kita mendapatkan riwayat hadits tentang doa dzikir ini yang kemudian diabadikan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim. Keberadaan beliau sebagai perawi hadits menegaskan peran penting para istri Nabi dalam meriwayatkan sunnah, karena mereka adalah saksi utama kehidupan Rasulullah ﷺ di ranah domestik.

Hikmah dan Pelajaran

Dari hadits ini, ada beberapa hikmah yang bisa kita renungkan:

  1. Dzikir bukan soal banyaknya lafaz, melainkan kualitas dan keikhlasan hati. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa singkat yang nilainya melampaui zikir panjang.

  2. Allah lebih menyukai dzikir yang bermakna luas. Ucapan ini mencakup makhluk, ridha Allah, Arsy, dan kalimat-Nya yang tiada habis.

  3. Peran para shahabiyah. Riwayat ini datang dari Juwairiyah, menunjukkan besarnya kontribusi perempuan dalam menjaga ilmu agama.

  4. Keutamaan doa singkat. Ia mudah dihafal, ringan di lisan, tetapi berat dalam timbangan amal.

  5. Motivasi untuk mengingat Allah sepanjang waktu. Bahkan ketika duduk di tempat shalat setelah Subuh, doa ini menjadi bekal dzikir yang sangat besar pahalanya.

Penutup

Doa “Subhanallahu wabihamdihi ‘adada khalqihi, waridha nafsihi, wazinata ‘arsyihi, wa midada kalimatihi” bukan sekadar rangkaian kata, melainkan kunci untuk meraih dzikir yang agung, luas, dan mendalam. Melalui riwayat Ummul Mukminin Juwairiyah radhiyallahu ‘anha, kita diajarkan bahwa dzikir terbaik adalah dzikir yang menghadirkan keagungan Allah di dalam hati, sekalipun dengan lafaz yang ringkas. Inilah warisan doa yang pantas kita amalkan setiap hari, sebagai bekal untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan dzikir yang berkualitas.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments