Yayasan Ibu Mengaji Indonesia

Makna dan Pelajaran dari Ayat Penutup Surah Al-Kahfi

www.ibumengaji.com Surah Al-Kahfi adalah salah satu surah yang banyak dibaca dan dihafal oleh kaum muslimin, terutama pada hari Jumat, karena keutamaannya yang besar. Di dalamnya terkandung berbagai kisah penuh hikmah yang menjadi pelajaran abadi bagi manusia. Menariknya, surah ini ditutup dengan sebuah ayat yang sangat ringkas namun sarat makna, yakni ayat ke-110. Ayat ini menegaskan dua syarat mutlak agar seorang hamba dapat berjumpa dengan Rabb-nya di akhirat kelak: beramal shalih sesuai tuntunan syariat, serta memurnikan ibadah hanya kepada Allah tanpa syirik sedikitpun.

Allah Ta‘ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharapkan pertemuan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia beramal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Ayat ini merupakan penutup surah Al-Kahfi yang penuh dengan pelajaran. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Allah menegaskan dua syarat utama bagi seseorang yang benar-benar ingin bertemu dengan Allah dan memperoleh keridhaan-Nya pada hari kiamat, yaitu:

  1. Amal shalih: yaitu amal yang sesuai dengan syariat Allah dan tuntunan Rasulullah ﷺ. Ibn Katsir menafsirkan bahwa amal shalih adalah amal yang sesuai dengan apa yang Allah syariatkan, tidak berdasarkan hawa nafsu atau bid‘ah. Jadi ukuran baik atau buruk bukan perasaan manusia, melainkan kesesuaian dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

  2. Ikhlas: yaitu tidak menyekutukan Allah dalam beribadah. Menurut tafsir Al-Baghawi, maksudnya adalah tidak menjadikan amal ibadah untuk riya, sum‘ah, atau demi selain Allah. Imam Mujahid menafsirkan “wala yusrik” dengan “janganlah ia beramal karena mengharap pujian manusia.” Dengan kata lain, ikhlas menjadi pondasi agar amal diterima.

Gabungan antara amal shalih dan ikhlas inilah yang menjadi inti dari syarat diterimanya amal. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim, ayat ini menjadi dalil bahwa amal tidak diterima kecuali dengan dua syarat: benar (sesuai sunnah) dan ikhlas (hanya untuk Allah).

Faedah dan Pelajaran dari Ayat

Dari ayat penutup ini, para ulama menyebutkan banyak faedah penting yang bisa kita ambil:

  1. Harapan bertemu Allah adalah pendorong amal
    Orang yang benar-benar berharap bertemu Allah di akhirat akan terdorong untuk memperbaiki amalnya. Harapan yang benar bukanlah angan-angan kosong, tetapi disertai usaha nyata dalam ketaatan.

  2. Pentingnya amal shalih yang sesuai tuntunan
    Ayat ini menjadi hujjah bahwa amal ibadah tidak cukup dengan niat baik. Harus ada kesesuaian dengan syariat. Imam As-Sa‘di menekankan bahwa “amal shalih” adalah yang dibangun di atas ittiba‘ (mengikuti Rasulullah ﷺ), bukan semata semangat beramal.

  3. Bahaya syirik dalam bentuk apapun
    Allah menegaskan larangan mempersekutukan-Nya dalam ibadah. Syirik bisa dalam bentuk besar (menyembah selain Allah) maupun kecil (riya). Keduanya bisa menghapus amal, sebagaimana firman Allah dalam surah Az-Zumar: 65. Maka seorang mukmin harus berhati-hati menjaga niatnya.

  4. Ikhlas sebagai syarat diterimanya amal
    Ikhlas adalah inti dari seluruh ibadah. Tanpanya, amal sebesar apapun menjadi sia-sia. Sebagaimana hadis riwayat Bukhari dan Muslim: “Sesungguhnya amal itu tergantung niat, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.”

  5. Tuntunan agar tidak mencari ridha manusia
    Ayat ini mengingatkan bahwa tujuan seorang hamba adalah keridhaan Allah, bukan pujian manusia. Ulama salaf menekankan bahwa amal yang ikhlas adalah amal yang tidak peduli apakah dilihat atau tidak, cukup Allah yang mengetahuinya.

  6. Pengingat akan nikmat terbesar: melihat wajah Allah
    Pertemuan dengan Allah di surga adalah nikmat tertinggi yang diisyaratkan dalam ayat ini. Sebagaimana hadis sahih Muslim: “Kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama, tanpa ada kesulitan melihat-Nya.” Ayat ini menjadi motivasi besar bagi seorang mukmin agar tidak lalai dalam amal shalih dan ikhlas.

  7. Ayat penutup yang menyeluruh
    Surah Al-Kahfi ditutup dengan ayat ini seakan menjadi kesimpulan dari seluruh kisah di dalamnya: kisah Ashabul Kahfi, pemilik dua kebun, Musa dengan Khidr, dan Dzulqarnain. Semua kisah itu berisi ujian iman, ilmu, harta, dan kekuasaan. Penutup ini memberi pesan: kunci keselamatan adalah amal shalih dan ikhlas kepada Allah.

Dengan demikian, ayat terakhir surah Al-Kahfi memberikan pelajaran mendalam tentang syarat utama menuju perjumpaan dengan Allah di akhirat. Amal shalih tanpa ikhlas tidak diterima, begitu pula ikhlas tanpa amal yang benar tidak dianggap. Seorang mukmin hendaknya selalu mengoreksi amalnya: apakah sesuai sunnah dan apakah ikhlas karena Allah. Inilah bekal untuk bertemu dengan Allah dan meraih kebahagiaan abadi.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments