Yayasan Ibu Indonesia Mengaji

3 Keburukan Orang yang Hasad: Penyakit Hati yang Merugikan Diri Sendiri

Pernahkah kita merasa tidak nyaman ketika melihat orang lain mendapatkan keberhasilan? Teman mendapat promosi, tetangga membeli rumah baru, saudara mendapatkan rezeki berlimpah, atau seseorang yang kita kenal memperoleh kesempatan yang selama ini kita inginkan.

Perasaan seperti itu perlu segera diperiksa. Sebab, bisa jadi hati sedang dimasuki hasad.

Allah Swt. berfirman:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”
(QS. Al-Falaq: 5)

Ayat ini merupakan bagian dari doa perlindungan dalam Surah Al-Falaq. Kita diperintahkan berlindung kepada Allah dari berbagai bentuk kejahatan, termasuk kejahatan orang yang hasad ketika kedengkiannya mendorongnya melakukan keburukan.

Menurut Tafsir Jalalain, “hasid” adalah orang yang menginginkan hilangnya nikmat yang dimiliki orang lain. Sementara Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat tersebut berkaitan dengan berlindung kepada Allah dari keburukan orang yang memiliki kedengkian ketika kedengkiannya itu diwujudkan. Adapun Sayyid Qutb dalam Fi Zilalil Qur’an menggambarkan hasad sebagai gejolak jiwa yang tidak senang melihat karunia Allah pada orang lain dan menghendaki lenyapnya karunia tersebut.

Dari sini kita memahami bahwa hasad bukan sekadar rasa iri biasa. Hasad adalah penyakit hati yang dapat merusak hubungan manusia dengan sesamanya sekaligus merusak hubungan manusia dengan Allah.

1. Hasad membuat seseorang berdosa

Keburukan pertama adalah hasad merupakan penyakit hati yang tercela dan dapat menyeret seseorang kepada dosa.

Orang yang hasad tidak sekadar berkata, “Saya ingin memiliki seperti dia.” Ia menginginkan agar nikmat yang diterima orang lain berkurang atau bahkan hilang.

Allah telah mengingatkan:

“Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya?”
(QS. An-Nisa: 54)

Hasad menjadi semakin berbahaya ketika diwujudkan melalui ucapan dan perbuatan. Orang yang dengki dapat merendahkan orang lain, menyebarkan aib, memfitnah, menghalangi kesuksesan, atau melakukan berbagai tindakan yang merugikan.

Karena itu, ketika muncul rasa tidak senang melihat nikmat orang lain, jangan diberi ruang untuk berkembang.

Segera lawan dengan doa.

“Ya Allah, berkahilah nikmat yang Engkau berikan kepadanya dan berikanlah kepadaku kebaikan dari karunia-Mu.”

2. Hasad menunjukkan buruknya adab kepada Allah

Inilah keburukan yang sering tidak disadari.

Allah adalah Ar-Razzaq, Yang Maha Memberi Rezeki. Allah pula yang menentukan siapa mendapatkan ilmu, harta, kesehatan, keluarga, kedudukan, kesempatan, dan berbagai bentuk nikmat lainnya.

Ketika seseorang hasad, ia tidak senang melihat karunia Allah pada orang lain. Jika kedengkian itu sampai pada keinginan agar nikmat tersebut hilang, berarti ia sedang mempertanyakan pembagian Allah dalam hatinya.

Bukan berarti setiap keinginan untuk mendapatkan nikmat yang sama adalah dosa. Seorang Muslim boleh berharap memperoleh kekayaan, ilmu, kedudukan, atau kebaikan seperti yang dimiliki orang lain.

Yang tercela adalah menginginkan nikmat orang lain lenyap.

Karena itu, obatnya adalah memperkuat keyakinan bahwa Allah Mahabijaksana. Apa yang diberikan kepada orang lain tidak berarti Allah mengurangi jatah kita.

Rezeki Allah tidak pernah tertukar.

Jika Allah memberikan sesuatu kepada orang lain, itu bukan tanda bahwa Allah melupakan kita.

3. Hasad membuat hati sendiri sakit

Keburukan ketiga justru paling terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang hasad sering kali sibuk memikirkan kehidupan orang lain. Ia melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman. Kebahagiaan orang lain menjadi sumber kegelisahan.

Ia mungkin berkata, “Mengapa dia yang mendapatkannya?”

Padahal orang yang ia dengki mungkin sedang menikmati hidupnya tanpa pernah memikirkan dirinya.

Inilah ironi hasad: orang lain mendapatkan nikmat, tetapi dirinya sendiri yang kehilangan ketenangan.

Sayyid Qutb dalam Fi Zilalil Qur’an menyoroti sisi kejiwaan hasad sebagai gejolak batin yang muncul ketika seseorang tidak rela melihat karunia Allah pada orang lain. Jika dibiarkan, gejolak itu dapat mendorong lahirnya keburukan.

Karena itu, hasad sebenarnya seperti racun yang diminum sendiri dengan harapan orang lain yang sakit.

Hasad Berbeda dengan Ghibthah

Islam tidak melarang seseorang menginginkan kebaikan seperti yang dimiliki orang lain.

Inilah yang disebut ghibthah.

Ghibthah adalah keinginan memperoleh nikmat serupa tanpa berharap nikmat orang lain hilang.

Misalnya, melihat seseorang rajin membaca Al-Qur’an kemudian kita berkata, “Saya ingin menjadi seperti dia.” Melihat orang lain sukses dalam bisnis lalu kita termotivasi untuk bekerja lebih baik. Melihat seseorang banyak bersedekah kemudian kita terdorong untuk memperbanyak sedekah.

Ini bukan hasad.

Justru ia dapat menjadi motivasi untuk memperbaiki diri.

Lima Cara Mengobati Hasad

Pertama, sadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah.

Kedua, doakan orang yang kita dengki. Mendoakan kebaikan untuknya dapat melatih hati menjadi lebih lapang.

Ketiga, perbanyak syukur. Fokuslah pada nikmat yang kita miliki, bukan pada nikmat yang dimiliki orang lain.

Keempat, hindari membandingkan kehidupan secara berlebihan. Setiap orang memiliki ujian, rezeki, dan perjalanan yang berbeda.

Kelima, ubah rasa iri menjadi ghibthah. Jika melihat kebaikan orang lain, jadikan sebagai inspirasi untuk bertumbuh, bukan alasan untuk membenci.

Pada akhirnya, Surah Al-Falaq mengajarkan bahwa manusia membutuhkan perlindungan Allah bukan hanya dari bahaya yang terlihat, tetapi juga dari kejahatan yang lahir dari hati manusia.

Hasad dapat merusak persaudaraan. Hasad dapat mendorong dosa. Hasad juga dapat membuat seseorang tidak menikmati nikmat yang sebenarnya sudah Allah berikan kepadanya.

Maka ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat, jangan biarkan hati berkata, “Mengapa dia?”

Ubahlah menjadi:

“Masya Allah. Semoga Allah memberkahinya. Semoga Allah memberikan kepadaku pula kebaikan yang terbaik menurut-Nya.”

Sebab hati yang bersyukur akan mencari nikmat Allah, sedangkan hati yang hasad akan sibuk menghitung nikmat orang lain.

Jangan biarkan kebahagiaan orang lain menjadi penyebab hilangnya kebahagiaan kita. Bersihkan hati, perbanyak syukur, dan percayalah kepada pembagian Allah.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments